Bung Karno Sebagai Penulis

Sebagai proklamator, orator ulung, dan Pemimpin Besar Revolusi, orang sudah tahu. Tetapi Bung Karno sebagai penulis, hanya segelintir yang mafhum. Ia sudah mahir menulis ketika siswa HBS, menggunakan nama pena: Bima. Yang unik, semua judul bukunya punya ciri khas: tulisan tangan Bung Karno nan indah menawan!

Mafhumkah Anda bahwa Bung Karno sejak siswa sudah terampil menulis?

Pada usia remaja, ketika siswa Hogere Burger School (HBS), sudah bisa hidup dari menulis. Dari jasa menulis, ia membayar biaya indekos di Surabaya dan bisa membeli buku.

Dengan banyak membaca, Bung Karno jadi dheng dengan banyak ragam gaya dan bentuk-bentuk tulisan. Ia pun paham bagaimana menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

Ratusan artikel dihasilkannya, dimuat dalam majalah asuhan HOS Cokroaminoto, “Oetoesan Hindia”. Dengan alasan keamanan, karena bersekolah di sekolah Belanda, Bung Karno menggunakan nama samaran: Bima. Nama pena ini sengaja untuk menghindari intimidasi dan pembungkaman pihak kompeni.

Jadi, buku Di Bawah Bendera Revolusi yang menggemparkan itu misalnya, bukan tiba-tiba ada begitu saja. Sang proklamator RI jauh sebelumnya telah mengasah keterampilan menulis. Dan Bung Karno sebagai penulis ini, hanya segelintir orang tahu.

 

INDONESIA MENGGUGAT

Berisi pidato pembelaan Bung Karno yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930.

Tak usah kami uraikan lagi, bahwa proses ini adalah proses politik: ia, oleh karenanya, di dalam pemeriksaannya, tidak boleh dipisahkan dari soal-soal politik yang menjadi sifat dan asas pergerakan kami dan yang menjadi nyawa pikiran-pikiran dan tindakan- tindakan kami…
Pembukaan Pembelaan Bung Karno yang terkenal itu “Indonesia Menggugat”. Bahwa proses peradilan yang sedang dilakukan terhadapnya adalah sebuah proses politik penguasa kolonial untuk membungkam gerakan nasional.

Diterbitkan oleh Penerbit S.K. Seno, Jakarta (1951), dengan tebal 187 halaman ini isinya tetap aktual. Kandungan isinya pun tidak lekang oleh zaman. Bahwa proses peradilan perkara, jika itu beermuatan politik kepentingan, sarat rekayasa dan pengadilan hanyalah sebuah panggung sandiwara.

 

DI BAWAH BENDERA REVOLUSI

Berisi 61 tulisan Bung Karno, yang dimuat berbagai media antara kurun waktu 1917-1925. Edisi pertama buku ini terbit tahun 1959 oleh sebuah panitia penerbitan di bawah pimpinan Mualliff Nasution. Cetakan perdana: 50.000 eksemplar! Ruar biasa!

Ketika menjadi Ketua Pelaksana Penerbitan kembali buku2 dan pemikiran BK di PT Grasindo memperingati seabad pemimpin besar revolusi itu, 2001, saya diberitahu para ajudannya untold story. Tiga di antaranya tentang “Indonesia”, westafel, dan buku ini.

Syahdan, judul buku ini langsung dari BK: menandai pemikiran2nya semasa menuju republik ini hamil besar akan melahirkan anak kandung bernama revolusi. –yang kini susah payah dipelihara dan dicabik-cabik Dan, seperti dapat dilihat, judul adalah TULISAN TANGAN BK sendiri.

 

SARINAH

Membaca buku ini, akan terasa siapa tangan dan pikiran penulisnya. Topiknya sederhana, tentang wanita sederhana bernama Sarinah. Bung Karno mampu menulis topik sederhana dengan cara luar biasa. Bung Karno mengawali buku ini memberi catatan sebagai berikut:

Apa sebab saya namakan kitab ini ”Sarinah”? Saya namakan kitab ini ”Sarinah”sebagai tanda terimakasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia ”mBok” saya.

 

Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai ”orang kecil”. Dia sendiripun ”orang kecil”. Tetapi budinya selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!

 

Kita pun lalu mafhum, sebuah cikal bakal mall –toserba—di bilangan Menteng, jantng kota Jakarta yang ketika itu supemewah, diberi nama Sarinah. Pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai ini mulai dibangun pada 1963. Mall pertama di Jakarta yang diresmikan 1966 yang pembangunannya atas keinginan Bung Karno. Sebuah bangunan yang mengekalkan nama wanita yang dikagumi Bung Karno ini.

 

Buku Sarinah yang terbit November 1947 ini terbilang fenomenal ini. Disebut demikian, karena di masanya, termasuk best seller. Bayangkan! Cetakan pertama 50.000 eksemplar.

Hal yang unik, semua judul buku Bung Karno merupakan tulisan tangan. Jika mengamati teks Proklamasi, tulisan tangan untuk judul buku-bukunya adalah orisinal. Sebuah gagasan brilian, mengingat jarang ada penulis dan penerbit berpikir sejauh itu. Lagi pula, tulisan tanga Bung Karno, layaknya tulisan tangan orang-orang terpelajar zaman itu, indah. Hal ini karena memang di sekolah pada zamanitu ada pelajaran menulis tangan, menulis indah.

Demikianlah caranya bekerja ide. Jasad manusia bisa saja mati, tetapi ide abadi. Sehebat apa pun pemimpin, jika tidak pernah menuliskan dan dituliskan ide-idenya, akan akan lenyap dan dilupakan orang, bersamaan dengan dia lengser atau dilengserkan. Dan setelah tiada, lebih dilupakan lagi.

Sebaliknya, pemimpin seperti Bung Karno. Ia abadi. Namanya tak pernah pupus dari muka bumi ini.

Maka benarlah kata John F. Kennedy: A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on. (rmsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *