Cikal Bakal Buku dan Percetakan di Nusantara

Cikal Bakal Buku dan Percetakan di Nusantara

Kitab-kitab yang ditulis pujangga Nusantara, setidaknya ada 7 wajib dihafal dalam pelajaran sejarah di SD dan SMP. Dengan “Nusantara” dimaksudkan sebagai wilayah di mana kelak menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejak zaman Kerajaan Majapahit, semasa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389), nenek moyang kita sudah mengenal budaya tulis-cetak. Karya-karya pujangga kerajaan Nusantara semisal karya Mpu Tantular yang diakui sebagai penggubah Kakawin Arjuna Wiwaha dan Sutasoma merupakan bukti bahwa nenek moyang kita sudah sejak lama mengenal budaya tulis-cetak.

Kitab Sutasoma. Kredit foto: ruanasagita.blogspot.com

Demikian pula karya Mpu Prapanca merupakan bukti bahwa sejak awal bangsa Indonesia sudah melek huruf. Di zaman kerajaan Erlangga juga sudah dikenal budaya tulis-cetak, seperti terbukti dari adanya Prasasti Erlangga.

Prasasti-prasasti lain di berbagai di Nusantara menunjukkan bahwa bangsa kita sudah lama berbudaya. Di zaman kerajaan Kutai pada abad ke-5, sudah ada prasasti yang disebut sebagai “Batu Yupa” beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Tulisan pada batu prasasti ini menyebutkan tentang pembawaan korban emas, sapi, biji wijen oleh Raja Mulawarman.

 

Boleh dikatakan, kerajaan-kerajaan Nusantara sudah mengenal budaya tulis-cetak. Nantinya, tradisi tulis-cetak itu beralih ke daun lontar, yang hingga kini masih dilestarikan.

Setidaknya 7 kitab karya pujangga Nusantara yang wajib dihafal ketika sekolah.

  • Mahabharata, dikarang oleh Resi Wiyasa.
  • Kitab Ramayana, dikarang oleh Empu Walmiki.
  • Kitab Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa.
  • Kitab Smaradahana, dikarang oleh Empu Darmaja.
  • Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.
  • Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Empu Prapanca.
  • Kitab Sutasoma, dikarang oleh Empu Tantular.

 

Zaman Kompeni Belanda

Pada zaman penjajahan oleh bangsa Belanda, kemajuan tulis-cetak di Nusantara semakin berkembang. Tradisi tulis-cetak yang dibawa VOC dan bangsa Belanda dari Negeri Kincir Angin masih diteruskan di Nusantara.

Sebagaimana diketahui, tujuan kedatangan bangsa Belanda ke Nusantara pertama-tama bukanlah untuk menyebarkan agama, namun lebih dilandasi oleh misi dagang. VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) merupakan bukti bahwa Belanda lebih mementingkan misi dagang dibadingkan yang lain.

Kendatipun demikian, percetakan Prapatan (di Jalan Prapatan, dekat Gereja Anglikan di Jakarta Pusat sekarang) boleh dikatakan lahir karena salah satu tujuannya adalah menerbitkan alkitab untuk keperluan di Nusantara.

 

Percetakan dan Perkembangannya

Dilihat dari industri kultural, pertumbuhan perusahaan grafika pers dan nonpers terkait langsung dengan kemajuan suatu bangsa. Karena, meski mesin cetak sudah lebih dulu di temukan Johanes Gutenberg empat abad silam, bisnis percetakan di Nusantara baru muncul pada 1809, ketika berdirinya Lands Drukkerij. Tujuan awal percetakan ini adalah mencetak berbagai formulir yang dibutuhkan bagi kepentingan pemerintah Hindia-Belanda. Fungsi percetakan pertama ini, kemudian diteruskan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia.

Pada 1950 misalnya, baru terdapat 496 perusahaan percetakan di Indonesia, menjadi 781 pada tahun 1957. Sepuluh tahun kemudian, 1967, naik menjadi 1.392. Akan tetapi, pertambahan luar biasa, terjadi tahun 1977. Di tahun ini, tercatat sebanyak 4.470 perusahaan percetakan di Indonesia. Tahun 1987, meningkat menjadi 4.918, dan hingga akhir 1992 menjadi 6.713 unit perusahaan percetakan, termasuk percetakan pers dan nonpers.

Saat ini, di Indonesia terdapat 6.713 perusahaan percetakan, besar dan kecil. Namun, kapasitas percetakan ini masih terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Sebab idealnya, setiap 7.000 penduduk dilayani sebuah percetakan.

Melihat kenyataan ini, maka masih terbuka peluang untuk mendirikan perusahaan percetakan. Tetapi, cukup realistiskah usaha ini, mengingat kemampuan ekomomi dan kebutuhan masyarakat Indonesia tidak merata?

Dilihat dari tingkat konsumsinya, penggunaan kertas dalam industri pers nasional tampak semakin meningkat. Saat ini, penggunaan kertas koran rata-rata mencapai 14.000 ton perbulan. Padahal, kapasitas produksi kertas koran dalam negeri baru mencapai 12.000 ton perbulan, sehingga setiap bulan kekurangan 2.000 ton. Kekurangan ini diatasi dengan mengimpor kertas.

Omzet terbesar bisnis percetakan umumnya di miliki bersama-sama penerbitan pers dan nonpers. Sejak pemerintah mengeluarkan izin penambahan halaman surat kabar harian (dari 12 menjadi 16 atau lebih), di samping adanya permintaan mencetak gambar berwarna (separasi), bisnis percetakan kian subur.

Angka-angka sebagaimana tampak dalam tabel menunjukan, jauh lebih banyak percetakan berada di jakarta (1.829 + 36). Disusul Jawa Timur (945 + 9), Jawa Tengah, (803 + 4), Jawa barat (762 + 4), Sumatra Utara (323 + 6), dan Sulawesi Selatan (319 + 5).

Bila di pertimbangkan faktor demografis, tingkat daya beli, serta sentra-sentra pengembangan industri, maka amat masuk akal percetakan banyak berkonsentrasi di Jawa, Sumatra dan Sulawesi karena koa-kota besar di pulau itu merupakan ‘kantong-kantong ekonomi” andalan. Kenyataan ini sekaligus memberi konfirmasi, bahwa teknologi percetakan tidak dapat maju dan berkembang tanpa dukungan kemampuan beli, Atau faktor ekonomi, masyarakat setempat.

Akan tetapi, memasuki dekade 1990-an, teknologi percetakan diIndonesia menunjukkan perilaku yang lain sama sekali. Di samping bersaing dalam hal modal, perusahaan percetakan besar saling berlomba mendatangkan mesin percetakan berkapasitas tinggi. Investasi yang dikeluarkan berkisar antaraDM4 – DM5 juta. Kemampuan cetak mesin ini mencapai 50.000 eksemplar (koran) perjam. Sungguh kemajuan luar biasa.

Jangan membayangkan setiap perusahaan percetakan mampu menambah kapasitas produksi, sebab yang bisa melakukan hal ini hanyalah perusahaan percetakan besar saja , dengan jaringan bisnis yang memang sudah jauh mapan. Ambillah misalnya percetakan PT Sinar Agape Press (mencetak Suara Pembaruan), PT Temprint (mencetak Tempo, Swa, Matra, Media Indonesia, Bisnis Indonesia), serta PT Percetakan Gramedia (mencetak harian Kompas, Jakarta Post, Bola, Nova, Intisari, Hai, serta sejumlah produk-produk KKG yang lain). Percetakan ini juga mencetak buku grup KKKG seperti GPU, KPG, Elex, Grasindo, Bhuana Ilmu Populer, Prima Media, dan Penerbit Buku Kompas.

Karena dalam satu payung grup, maka tiga perusahaan percetakan itu otomatis mencetak sekitar 70% produk sendiri. Sedangkan 30% sisanya, mencetak produk milik orang lain, bisa berupa penerbitan pers atau buku, atau sekedar order perusahaan atau perseorangan yang sering membuat laporan tahunan (annual report).

Jika dicermati, kerja sama saling menguntungkan (sinergi) antar perusahaan itu yang membuat tiga kelompok tadi maju dan malahan tak terbendungkan. Sinergi, yang menjadi tren perusahaan percetakan dan penerbitan sekarang, seolah-olah “memagari” jenis usaha ini dari kemungkinan invasi pendatang baru, atau ancaman pihak luar. Posisi mereka sangat kuat, kedudukannya di peta percetakan saat ini tak mungkin di saingi.

Bagi pendatang baru, peluang yang ada paling-paling mencetak produk-produk khusus. Misalnya, buku, surat berharga, poster, brosur. Dominasi dan kemapaman Sinar Agape, PT Temprint, Erlangga Grup, dan PT Gramedia sebagai market leader di bidang teknologi percetakan dan media cetak paling kurang sepuluh tahun mendatang sukar untuk digeser.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *