Galeri Buku Cilik Di Rumah Tjilik Riwut

Apa yang diucapkan berlalu, tapi yang tertulis abadi. Tjilik Riwut abadi karena tulisan-tulisannya.

Angin mengembus dingin menjelang malam. Di bilangan Jalan Sudirman, kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Di belok jalan sedikit pojok. Terbaca plang yang dibenderang lampu taman warna warni: Rumah Tjilik Riwut Gallery & Resto.

Pada sebuah ruang, berdinding putih. Tergantung foto-foto tua. Dibingkai kaca yang bening, semua gambar berkisah tentang sejarah masa lalu. Ketika bumi pendahara masihlah belantara. Dan Tjilik Riwut membangun kota di atas pasir. Pahandut yang semula cikal bakal Palangka Raya, kini nyaris sepi ditinggalkan. Pusat kota ada seputar lingkar kantor Gubernur, kilometer 00 sebagai pusat kota.

Malam itu, 10/2, saya bersama Wilson, Suriansyah, dan Yunitha Elle duduk di kursi kayu yang bermeja kayu juga. Terkesan orisinal warna alami. Sembari menikmati kuliner setempat, ikan baong dan patin bakar, ditingkah suara merdu penyani kafe dan iringan musik, tergeletak begitu saja buku-buku di sana. Sebagian besar karya Tjilik Riwut, meski ada beberapa karya orang lain. Tapi semua buku di galeri cilik itu bertema Dayak.
Tak syak, menyebut Tjilik berlatenta banyak. Sebagai pahlawan nasional dan gubernur Kalteng, banyak orang tahu. Tapi hanya segelintir yang mafhum ia penulis buku dan wartawan. Kalimantan Membangun (1993) dan Kalimantan Memanggil (1958), buku sederhana karya tangannya.
“Hanya” menyajikan gambar-gambar, diimbuhi sedikit keterangan. Tapi, para pakar kemudian menyebut bahwa: itulah metode penelitian entografis-deskriptif. Kita wajib bersyukur, sebab one picture is worth a thousands words telah ia abadikan. Sebab “verba volant scripta manet” (yang diucapkan berlalu, tapi yang tertulis abadi selamanya). Pepatah petitih ini benar adanya.

Gambar dan sedikit kata yang jika dikaji secara hermeneutika banyak hal. Cerminan manusia Dayak pada zamannya.Dilengkapi feature seputar pojok buku cilik, di ruang cilik di resto Tjilik yang terbentang di Jalan Jendral Sudirman No.1, Palangka Raya. Dahulu kala, inilah rumah tinggal pahlawan nasional dan pendiri kota Palangka raya ini.

Galeri buku meski menempati sebuah pojok di ruang cilik resto dan galeri Tjilik Riwut, menunjukkan anak-anak yang empunya dan mengelolanya menurunkan semangat sang ayah: cinta buku dan ilmu.
“Bapak orangnya senang tourne. Blusukan istilahnya masa kini,” papar pengelola, sekaligus pemilik Rumah Tjilik Riwut Gallery & Resto, Ida Riwut, yang tak lain adalah putri pertamanya.

Tjilik yang dilahiran di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah pada 2 Februari 1918 seorang Dayak. Tapi yang punya semangat nasionalis karena mengenyam pendidikan dan bergaul luas di Jawa. Siapa pun mengatahui bahwa Riwut seorang tokoh perjuangan kemerdekaan yang berasal dari Kalimantan. Malang melintang di tanah Jawa, sampai menjadi karib Soekarno, proklamator sekaligus presiden RI pertama.

Meski dikenal sebagai pejuang kemerdekaan di bidang militer, sebenarnya perjuangan Riwut diawali dari pers. Ia menempuh sekolah perawat di Bandung dan Purwakarta. Pada 1940, Tjilik menjadi pemimpin redaksi majalah Pakat Dayak dan Suara Pakat.

Dia juga Koresponden Harian Pemandangan yang dipimpinan M. Tambrani dan Harian Pembangunan yang dipimpinan Sanusi Pane. Pegulatan di bidang tulis menulis ini membuatnya berkenalan dengan perjuangan kemerdekaan. Pada masa pendudukan Jepang, Tjilik direkrut untuk mengumpulkan data-data seputar keadaan Kalimantan demi kepentingan militer Jepang. Ia menggunakan kesempatan ini untuk membangun jaringan, komunikasi, dan mengkoordinasi sukusuku di pedalaman. Semua itu kelak, pada Perang Kemerdekaan, menjadi modal baginya untuk menyatukan kekuatan rakyat.

Riwut adalah rombongan kedua Tentara Ekspedisi 96 yang masuk bumi Kalimantan dari Jawa menghadapi kompeni Belanda. Bahkan, Riwut memimpin operasi penerjunan Pasukan Payung yang pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 17 Oktober 1947. Penerjunan itu terjadi di Desa Sambi, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, dengan pasukan MN 1001 Brigade Mobil.

Hal yang menarik, dan karena itu menjadi bernilai sejarah, peristiwa penerjunan tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Pasukan Khas TNI-AU. Pada waktu itu, Pemerintah RI berkedudukan di Jogjakarta. Tjilik Riwut ketika itu berpangkat Mayor TNI. Pangkat terakhir Riwut dalam dunia militer ialah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Riwut salah seorang tokoh yang mewakili 142 suku Dayak di pedalaman Kalimantan sekitar 185.000 jiwa, yang menyatakan diri setia pada Republik Indonesia. Mereka melaksanakan Sumpah Setia dengan upacara adat leluhur suku Dayak kepada pemerintah Republik Indonesia pada 17 Desember 1946 di Gedung Agung, Jogjakarta.

Di Bidang Politik, Riwut pernah menjadi seorang anggota KNIP (1946 – 1949).Setelah perang, Riwut merintis karier di bidang politik. Pada 1950, Riwut menjadi Wedana di Sampit, Kalimantan Tengah. Dia kemudian menjadi Bupati Kotawaringin Timur 1951- 1956 sebagai Bupati Kepala Daerah Swantara Tk. II Kotawaringin Timur. Riwut kerap mengemban beberapa tugas jabatan berbeda dalam rentang waktu yang sama. Misalnya, 1957, residen kantor persiapan/pembentukan daerah swantara TK 1 Kalimantan Tengah di Banjarmasin.

Pada 1958, ayah 5 anak ini menjadi residen pada pemerintahan swantara Tingkat 1 Kalimantan Tengah. Pada 1958- 1959 menjadi Penguasa/ Pemangku Jabatan Gubernur Kepala Daerah Swantara Tingkat I Tengah. Pada 1957-1959 Riwut juga Anggota Dewan Nasional RI. Selanjutnya, menjadi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Kalimantan Tengah pertama pada 1959-1967. Konstribusinya bagi pembangunan nasional dan Kalimantan Tengah pada khususnya tidak diragukan lagi. Riwut memimpin, mendirikan, dan membangun hutan di sekitar Desa Pahandut menjadi Kota Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Riwut tutup usia pada 17 Agustus 1987 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya.

Pada 1998, Presiden RI menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional bagi Tjilik Riwut. Riwut juga dikenal sebagai pemikir, penulis, dan dasar pembangunan bagi etnis Dayak melalui beberapa buku, antara lain.

1) Sejarah Kalimantan (1952).
2) Maneser Panatau Tatu Hiang (1965).
3) Kalimantan Membangun (1979).

Tjilik sebenarnya bukan menulis buku. Tapi menulis keabadian. Ia tetap dikenang lewat buku-buku yang tak ada duanya. (rmsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *