Ketika Jurnalisme dan Sastra Dikawinkan Seno

Anda penggemar dan penggiat sastra dan jurnalisme?

Jika “ya”, tentu mengenal Seno Gumira Ajidarma. Orang Indonesia kelahiran Boston, yang sudah memulai karier jusnalistik dan kepenyairan di usia relatif muda, ini cukup fenonenal. Utamanya di dunia jurnalistik dan sastra.

Seno, di tahun 2015 menginjak usia 57 tahun. Nah, dia telah memulai pekerjaan jurnalistik sejak usia 19 tahun. Sebelumnya, dia sudah menulis puisi dan cerita pendek.

Pada tahun 1993, cerpennya berjudul “Pelajaran Mengarang” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas. Buku kumpulan cerpennya di antaranya “Manusia Kamar” (1988), “Penembak Misterius” (1993), “Saksi Mata” (l994), “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1995), “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta” (1996), “Iblis Tidak Pernah Mati” (1999). Juga novel “Matinya Seorang Penari Telanjang” (2000).

Di antara puncak pencapaiannya adalah pada 1987 mendapat Sea Write Award. Dan cerpennya berjudul “Saksi Mata”, membawa dia sebagai penerima Dinny O’Hearn Prize for Literary pada 1997.

Buku yang kini diulas berjudul “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Bukan antologi sajak, juga bukan kumpulan cerpen, apalagi novel atau roman. Buku kecil yang hanya berhalaman 120 ini merupakan kumpulan esai. Dia membahas mulai jurnalistik hingga sastra berupa cerita pendek dan sajak. Mengurai saling kait antar tematik itu. Di beberapa bagian, sedikit membahas tentang karya-karyanya.

Patur diingat, buku ini terbit pada 1997 (yang saya miliki merupakan terbitan pertama Bentang Budaya), di penghujung cengkeram rezim Orde Baru yang terkenal galak terhadap pemikiran-pemikiran berani. Apalagi menyangkut kenagasan rezim terhadap kebebasan pers.

“Masih perlukah sebuah pengantar, untuk sejumlah tulisan yang hampir semuanya mirip-mirip pengantar ini?” Begitu Seno membuka kata pengantar yang diberinya judul “Atas Nama Sosialisasi (Sebuah Pengantar)”. Hmmm, terdengar seperti kurang percaya diri, atau pe de menurut istilah prokem masa kini.

Masih dijumpai, “Apa boleh buat, ini jenis buku yang mestinya saya merasa sungkan untuk diterbitkan,” yang tercantum pada kalimat setelah pembuka tersebut. Menurut Seno, kumpulan esai yang membentuk buku ini “terlalu banyak hanya berbicara tentang diri sendiri, dan celakanya mungkin tidak penting sama sekali untuk orang lain.”

Buku kecil ini kiranya tidak hanya penting, tetapi vital bagi siapa saja penikmat karya-karya Seno sebelumnya. Mengapa? Beberapa esai mengupas, meski secara singkat dan kadang amat singkat, tentang proses kreatif dia melahirkan karyanya.

Meski, lagi-lagi Seno berpendapat, “saya termasuk orang yang setuju, kalau karya sastra memang tidak harus dihubung-hubungkan dengan latar belakang pembuatannya. Pengalaman seorang penulis mungkin menarik sebagai gosip, tapi ia tidak perlu menjadi faktor yang ikut menentukan kualitas sebuah tulisan.”

Tulisan-tulisan dalam buku ini jelas merupakan suatu perlawanan terhadap rezim represif Orde Baru yang senantiasa memberangus kebebasan pers. Itu sebab, Seno sampai muncul pada suatu pendapat: ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena, tulis Seno, bila jurnalisme bicara dengan fakta, maka sastra bicara dengan kebenaran.

Dia uraikan: Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri.

Seno bermurah-hati berbagi satu di antara kisah tragisnya sebagai wartawan, pada halaman 48 di bawah judul “Jakarta Jakarta & Insiden Dili: Sebuah Konteks untuk Kumpulan Cerpen Saksi Mata”. Bab ini, menurut saya, amat menarik, karena pembahasan Seno bergumpal pada dua roh buku ini: sastra dan jurnalisme.

Saat itu, pada 1992, saat merupakan wartawan Majalah Jakarta Jakarta. Dia dan rekan-rekannya melakukan proses jurnalistik dengan melakukan peliputan kemudian pemberitaan atas tragedi yang mereka namakan Insiden Dili. Kala itu, Timor Timur masih merupakan bagian dari Indonesia, dan di tanah ini sedang terjadi bentrokan antara pihak yang pro integrasi dan kontra integrasi.

Media pada masa itu “dipaksa” harus pro pemerintah, dengan kata lain juga “harus” pro integrasi. Di sisi lain, banyak aspek kemanusiaan yang membuat sikap diam-diam menentang kemauan pemerintah mempertahankan provinsi termuda pada masa itu. Majalah tempat Seno bekerja menurunkan berita berbagai angle tentang tragedi yang dikenal dengan sebutan “Indisen Dili 12 November”. Selain dari laporan wartawan yang dikirim ke tanah konflik, mereka juga menampilkan deskripsi sebuah video tayangan televisi luar negeri tentang apa yang sesungguhnya terjadi (menurut audio-visual) di Dili kala itu.

Tentang para demonstran anti integrasi yang unjuk rasa di Dili, kemudian mereka diburu aparat hingga ke kuburan. Dan di tempat perinstirahatan terakhir itu, terjadi tragedi kemanusiaan dengan “soundtrack” berondongan suara senapan.

Akibat berita ini, Seno dan teman-temannya yang dianggap bertanggungjawab, dipanggil oleh petinggi majalah. Mereka diundang ke sebuah ruang rapat pada siang menjelang jam makan siang. Mereka disuguhi makanan kotak, kemudian diberitahu bahwa mereka–Seno dan dua temannya–disingkirkan dari Majalah Jakarta Jakarta. Juga, Seno dipanggil oleh pihak aparat (ABRI pada masa itu, kini TNI) dan dibentak-bentak, dianggap tidak nasionalis dan tidak pancasilais.

Sungguh, bagi orang kebanyakan, ini bukan pengalaman menyenangkan. Tapi Seno bisa menangkap hal lain, yakni inspirasi untuk karya sastranya sehingga lahirlah  beberapa cerita pendek. Cerpen berjudul “Saksi Mata” terinspirasi dari kisah tentang para saksi mata yang dibungkam kesaksiannya. Cerpen mengisahkan tentang seorang saksi mata di pengadilan yang datang tanpa mata. Dia menuliskannya secara surealisme.

Dia juga menulis cerpen berjudul “Telinga”, terinspirasi dari berita bahwa ada pemuda tanpa telinga yang menghadap Gubernur Timor Timur. Jika Sang Gubernur tak penasaran mengapa pemuda itu tak bertelinga, maka melalui imajinasinya, Seno mengolah tema ini menjadi cerita pendek. Bahwa pihak-pihak pembangkang yang tertangkap, ada yang dipotong telinganya sebagai peringatan.

Tidak mudah tentu, untuk setidaknya meneladani sikap dan prinsip seorang Seno. Meski “dihajar” di satu sisi, dia tetap bisa memandang sesuatu yang lain di sisi berikutnya. Benar bahwa ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Berita jurnalistik tentang liputan Insiden Dili bisa dibungkam, tetapi cerita-cerita yang menginspirasi yang dilahirkan dengan pendekatan sastra, ternyata bisa juga menyampaikan kebenaran itu kepada para pembaca yang peduli.

Seno, saya pikir, tidak perlu malu-malu seperti kata pembukaan untuk buku ini. Justri cerita-cerita yang dikatakannya “sungkan untuk diterbitkan”, menjadi semakin memperkaya khasanah referensi siapa saja penikmat dan penggiat jurnalisme dan sastra.

Ibarat penghulu, Seno telah menjadi “juru kawin” atas fakta-fakta jurnalisme dengan inspirasi karya sastra. Ya, ibarat penghulu!

* Severianus Endi, lulus dari program studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, pernah bekerja sebagai wartawan media lokal di Pontianak, kini menjadi penulis lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *