Korrie Layun Rampan: Kembali ke Rumah Sastra

Korrie Layun Rampan, pegiat sekaligus kritikus sastra Indonesia andal, telah tiada. Ia meninggalkan ratusan buku. Dan membangun rumah sastra di kampung halamananya.

Di Paviliun Arafah atas kamar 8, Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih, Jakarta. Matahari mulai terbenam. Sore dibekap malam. Sendirian, saya menyusuri lorong rumah sakit bercat hijau itu. Melintas, memintas cukup jauh dari resepsionis. Berjalan lurus, lalu mentok kanan, naik tangga lantai dua. Bertemulah saya dengan kawan-rapat, sekaligus lawan latih tanding saya soal sastra budaya, khususnya Dayak.

“Hai!” katanya seraya mengulur tangan.
“Hai juga!” kata saya.
Ia masih mengenal siapa yang datang. “Baru saja Taufik (Ismail) dari sini.”
“O ya?”

Saya pun mengamati dirinya. Botol infus berdiri dengan kaku. Hidungnya penuh dengan selang. Suaranya sedikit parau, tapi sangat jelas intonasinya.

Saya mengamati keadaan dengan saksama. Saya ambil tangannya erat. Saya genggam. Kami seperti dua petarung. “Lekas pulih, ya! Banyak pekerjaan menanti kita. Sastra Dayak terutama. Kamu kan memiliki otoritas sastra, setelah Jassin. Apa yang kau katakan, habis perkara. Seperti Paus (Jassin dibaiat “Paus Satra Indonesia oleh Gayus Siagian) locuta, causa finita”.

korrie-masri

Ia senyum. Sumringah.
“Ya, bagian saya sudah selesai.”
“Di mana?”
“Sama situ!” ia menunjuk istrinya.

Dan memang kami merencanakan menerbitkan buku yang membuat profil sastrawan Dayak dan karyanya.

Kami pun ngobrol ngalor ngidul. Tentang banyak hal. Tentang novel saya, Keling Kumang, yang ia beri endorsement. Katanya, “biar pembaca selesai membacanya. Novel itu indah. Bukan saja kandungan isinya, melainkan juga pilihan katanya.”

Saya merasa tersanjung.

Saya punya titipan dari penyair Dayak yang tinggal Pontianak, Budi Miank. Saya minta endorsement dia untuk kumpulan saja Miank, Ombon: Perempuan Pengembara. Saya sarikan isi sajak-sajak Miank. Kata Korrie: Puisi-puisi tematik tentang Dayak masih sangat langka. Disebut tematik karena tema dalam kumpulan puisi ini khas mengangkat khasanah dan dunia Dayak, seperti: tembawang, hutan, ladang, dan sebagainya. Inilah sastra kontekstual, sekaligus regional.

Obrolan pun makin ramai. Tak terasa, dua jam saya di sana. Maka saya pun pamit. Saya membawa buku. Satu diminta ditinggal oleh istrinya. Sebelum pamit, kami masih sempat  saling rangkul. Dalam hati, saya tak ingin lekas kehilangan kampiun sastra itu. Apalagi, sesama Dayak. Tidak satu dalam seabad kita punya orang seperti itu.

***

Hari pun berlalu. Saya rencana, seminggu kemudian berkunjung. Sekalian membawa buku cetak ulang, Api Awan Asap dan Upacara yang konon kabarnya ia belum pernah lihat.

Hari Rabu (18/11) saya inbox menanya berita. Saya tahu, yang jawab istrinya. Dijawab, “Tak sadarkan diri sejak kemaren.”

Dalam hati, saya berharap, semoga ada keajaiban. Saya ajak kawan-kawan mendoakan.

Saya sudah minta buku ke penerbit untuk dibawa. Namun, Kamis pagi (19/11) pukul 07.55) ia mengembus napas terakhir. Buku contoh pun tak pernah sampai.

Jasadnya kemudian disemayamkan dua hari di RS Cikini, Jakarta. Ia dibawa kembali ke kampung halaman, ke rumah sastra miliknya.

Ia cerita pada saya, banyak karyanya terserak. Tapi yang terkumpul sekitar 200-an buku. Ahli warisnya semoga teliti dan tekun menelisik karya-karyanya di berbagai Penerbit. Jangan sampai orang lain menikmati jerih payahnya tanpa keluarga dan ahli waris tahu.

Satu yang saya suka: Berita yang Tak Pernah Sampai kepada Raja. Ke mana ya?

Selain itu, saya merekam karya-karyanya bernuansa Dayak sbb: Perawan, Riam, Penari dari Isuy, Tarian Gantar, Perhiasan Bulan, Api Awan Asap, Lou Abung, Keluarga Tawanan, Matahari, Matahari Lembah Dalam, Perbatasan, Lingkaran, Keluarga Rinding, Intu Lingau, dan Percintaan Sungai.

Kami kerap sekamar ketika jadi juri dan narasumber. Ia bercerita kepada saya, “Tujuan membuka wilayah geografi kehidupan orang Dayak yang selalu terpuruk dan menjadi umpan kegagalan. Banyak hak ulayat mereka harus berpisah tangan kepada kaum konglomerat yang mengambil begitu saja tanah-tanah mereka, menggunakan kebijakan aji mumpung; di mana mereka membutuhkan uang dan uang itu ada di tangan konglomerat. Tanah dan hak ulayat mereka pergi dan tinggal mereka terpuruk menjadi koeli dan budak di tanah mereka sendiri. Hal inilah yang membutuhkan perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang Dayak dengan perlawanan untuk memenangkan kehidupan.”

rumah-sastra-korrie

Vita brevis, ars longa. Hidup singkat, tapi seni abadi!

–R. Masri Sareb Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *