Launching Buku Kurikulum Untuk Kehidupan

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, siap hadir dan membuka secara resmi perhelatan Minang Book Fair pertama di Padang, 24 Februari – 5 Maret 2017 di Masjid Raya Sumbar. Menyusul kesuksesan di ajang World Halal Tourism Award 2016, Sumbar kini menjadi salah satu andalan wisata halal di Indonesia.

Pameran buku dan budaya Minang Book Fair pertama dan terbesar di Padang, diikuti oleh para penerbit buku, toko buku, perpustakaan daerah se Sumbar dan perguruan tinggi. Event ini juga bisa di jadikan sebagai wisata rohani bagi masyarakat, karena tempat acara MBF di adakan di Masjid ter-indah degan arsitektur perpaduan khas budaya minangkabau dan Islam. Salah satu acara yang sudah di siapkan oleh panitia MBF adalah, launching dan bedah buku “Kurikulum untuk Kehidupan” yang di tulis oleh Zulfikri Anas, seorang pakar kurikulum dan juga sebagai direktur Institut Indonesia Bermutu.

Kurikulum itu sangatlah simpel. Kehadiranya untuk memperlancar proses pembelajaran dan menjadi skenario untuk memberikan pelayanan terbaik kepada setiap peserta didik. Allah tidak mengenal produk gagal, setiap anak, apapun kondisinya pasti memiliki keunggulan karena masing-masing individu telah diperhitungkan dengan matang untuk apa dilahirkan. Melalui pelayanan terbaik itu setiap individu mampu menemukan jalan terindah untuk membangun dirinya agar kehadirannya bermakna bagi kehidupan.

Begitu sederhananya kurikulum itu, namun menjadi rumit ketika pikiran kita telah merumitkannya. Ketika kita terperangkap dalam pemikiran bahwa pendidikan bermutu akan dapat diwujudkan melalui pengaturan administrasi yang ketat, kaku sehingga tidak responsif terhadap kebutuhan domistik (lokal), sesungguhnya kita telah mengorupsi sisi kemanusiaan, kreatifitas menjadi terkekang, inovasi menjadi mandeg, jati diri menjadi hilang, kearifan menjadi luntur, persoalan menjadi beban, lalu akhirnya tergilas oleh kehidupannya sendiri.

Apa yang terlintas dalam pikiran, terucap dalam perkataan, tercipta dalam suasana atau iklim pembelajaran, serta terwujud dalam tindakan para pendidik atau siapapun yang terkait dengan proses pendidikan pasti akan berpengaruh kepada pembentukkan pola pikir, perkataan, tindakan, dan sikap (attitude) peserta didik. Itulah kurikulum yang sesungguhnya, ia bersemayam dalam diri manusia dan hidup di sepanjang masa, serta mampu menghadirkan masa depan kehadapan siswa hari ini.
Setitik jadi laut, sekepal jadi gunung, itulah “Kurikulum untuk kehidupan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *