Lap Tangan Affandi

Jika belum siapa-siapa, apa pun yang Anda tulis dibilang: jelek. Jika penulis terkenal, apa pun yang Anda tulis dibilang: ruar biasa! Padahal, yang Anda tulis sama saja.

Baik kiranya kita simak kisahan yang berikut ini. Tentang lap tangan Affandi, seorang maestro seni lukis yang pernah kita miliki.

Syahdan, suatu hari, pecinta sekaligus kolektor lukisan datang ke galeri lukis Affandi, sang maestro.

Lama berkeliling melihat, satu yang menarik hatinya. Yakni lukisan abstrak yang tak sembarang orang bisa menikmati dan menjelaskan maknanya.

“Ini lukisan ruar biasa,” katanya memuji. Entah pura-pura agar terkesan tinggi selera seninya, entah memang seorang kolektor lukisan yang bosan kaya.

“Yang mana, pak?” tanya Affandi.

“Yang itu!” ia menunjuk di sudut paling pojok.

Affandi terperanjat ketika mengamati dengan saksama arah telunjuk seorang asing itu. Tapi masih bisa menyembunyikan kekagetannya. Ke sana biasanya ia datang ketika tangannya blepotan cat, sehabis melukis.

“Saya suka lukisan ini di antara yang lain. Saya mau beli yang ini!”

“Mohon maaf, pak!” sahut Affandi separuh membungkuk. “Khusus itu tak dijual.”

“Tak dijual? Mengapa?”

“Koleksi pribadi saya. Dan memang bukan untuk dijual.”

“Tapi saya terlanjur suka. Berapa pun saya bayar!”

“Tak ternilai, pak. Maaf sekali.”

“Ini cek,” kata si pengunjung galeri sembari menyobek selembar. “Silakan Pak Affandi mau isi berapa nilainya.”

Orang yang bosan kaya itu lalu menyerahkannya selembar cek kosong kepada Affandi untuk diisi seberapa suka. Saya pernah mengalaminya, meski tidak mengisi berapa mau. Anda pun, suatu waktu, pasti akan mengalaminya.

Tahu lukisan yang disebut sebagai mahakarya dan hebat luar biasa tersebut?

Itu adalah lap tangan Affandi, sehabis blepotan melukis. Namun, orang yang bosan kaya menganggapnya unik. Satu-satunya, tak ada di antara rangkaian galeri lain. Dan ia bangga memiliki satu-satunya di dunia lukisan abstrak yang menurutnya hanya orang berjiwa seni tinggi yang memahaminya. Itu adalah akumulasi dari seluruh lukisan Affandi yang lain.

Jadi, ketika Anda bukan-siapa siapa maka apa pun yang Anda haslkan dibilang: jelek. Tapi, ketika Anda maestro, sampah pun, lap tangan sekalipun, apa pun yang Anda kerjakan akan dibilang: bagus luar biasa.

Maka, simpan selalu tulisan yang Anda anggap paling sampah sekalipun. Suatu waktu, ada orang gila, yang bosan kaya, menyebut sampah Anda luar biasa, dan memberi cek untuk diisi sendiri nilainya berapa kepada Anda! Hal ini sepadan dengan apa yang dikatakan empu para penulis, Mark Twain,

“Write without pay until someone offers pay. If nobody offers within three years, the candidate may look upon this as a sign that sawing wood is what he was intended for.”

Yang kerap terjadi ialah penulis pemula gampang patah arang. Memang menulis untuk diri sendiri, entah di beranda Fb, entah di blog pribadi, mudah. Hal ini karena tidak ada pihak ketiga, yang profesional, menilai tulisan kita.

Namun, jika sebuah tulisan sebagai komoditas, artinya dimuat media dan untuk itu penulis mendapat bayaran, lain lagi ceritanya. Harus ada unsur-unsur yang dipenuhi. Wajib ada di dalam tulisan aspek-aspek yang dapat dirumuskan hanya dalam dua patah kata: indah dan berguna.

Alah bisa karena biasa. Tajam pisau karena diasah. Menulis bukanlah bakat, melainkan keterampilan. Karena itu, biasakan diri Anda, setiap hari, menulis. Tidak ada yang luar biasa. Yang ada adalah kebiasaan. Maka biasakan diri Anda menulis setiap hari. Hingga suatu masa, tulisan yang Anda anggap “sampah”, hasil belajar-menulis, dikatakan luar biasa oleh orang.

Itu sebuah sebuah proses! Barang siapa yang berkanjang, persisten, ia akan menuai hasil. Persoalannya: apakah Anda seorang climber? Atau seorang pecundang. Yang gagal di tengah jalan karena tidak bisa mengubah tantangan jadi peluang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *