Mitos Sekitar Menulis

Menulis, sebagai keterampilan berbahasa tulisan, dapatkah ditingkatkan? Bagaimana caranya?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan senantiasa ada alasan bagi orang yang sebenarnya kurang berigairah untuk meningkatkan keterampilan menulisnya. Kadang kala, alasan yang dilontarkan terasa dibuat-buat. Misalnya:

  • Tidak ada bakat
  • Tidak ada waktu
  • Sibuk
  • Capek
  • Banyak hal urgen yang perlu dikerjakan
  • Banyak urusan keluarga
  • Gak bisa menulis juga gak mati
  • Banyak urusan kantor
  • Lagi gak semangat
  • Lagi bete
  • Lagi gak ada mood
  • Gak ada ilham
  • Ide lagi buntu
  • Tunggu ada ide brilian baru dituangkan
  • Gak punya laptop/ komputer
  • Gak punya uang untuk beli alat tulis
  • Ingin tulisan sempurna
  • Puas-puasin mau tidur
  • Mau jalan-jalan ke mal
  • Dan sejumlah alasan lain.

Itu semua adalah “mitos”. Atau persisnya pembenaran, seseorang tidak (pernah) menulis. Dalam praktik, hanya segelintir orang yang hidupnya sepenuhnya bertumpu pada menulis. Selebihnya, dilakukan di sela-sela pekerjaan dan kesibukan, terjebak dalam impitan dan rutinitas sehari-hari.

Benar, Anda punya pekerjaan, rutinitas, dan keluarga. Camkanlah! Hal ini bukan alasan untuk menghentikan langkah para penulis besar dan profesional.

Mungkin Anda CEO, manager suatu perusahaan, karyawan, dosen, guru, buruh, entrepreneur, atau apa saja profesi Anda. Namun, kesibukan dan rutinitas itu mestinya bukan menjadi kambing hitam untuk tidak menulis.

Lihatlah! Penulis besar berikut ini mematahkan bahwa kesibukan dan waktu adalah penghalang tidak bisa kreatif dan produktif menulis.

Sebagai contoh, penyair Wallace Stevens adalah wakil ketua sebuah perkumpulan Asuransi dan seorang ahli dalam bidang Marketing. Thomas Stearns Eliot adalah seorang bankir muda. William Carlos Williams seorang dokter anak-anak. Robert Frost adalah ahli peternakan unggas. Hart Crane pembungkus gula-gula pada perusahaan ayahnya, kemudian ia menjadi penulis naskah iklan. Stephen Crane seorang wartawan perang. Marianne Moore bekerja pada perpustakaan umum di New York. James Dickey bekerja untuk agen iklan. Archibald MacLeish direktur kantor fakta dan kenyataan dan ilmu hitung selama Perang Dunia II.

Di Indonesia, para penulis juga punya pekerjaan tetap dan aktivitas rutin. Misalnya, Marga T dan Mira W adalah dokter. Ayu Utami dan Fira Basuki adalah jurnalis. Ashadi Siregar dan Naning Pranoto adalah dosen. William Chang sehari-hari adalah dosen dan pastor. Dewi “Dee” Lestari Simangunsong seorang penyanyi. Atau Korrie Layun Rampan adalah seorang redaktur sebuah media, kemudian anggota legistatif di sebuah kabupaten di Kaltim.

Tapi, lihatlah! Mereka sangat produktif. Bahkan, honor/royalti melebihi gaji bulanan.

Apa rahasianya? Tulis apa yang Anda lakukan! Tulis apa yang Anda suka. Tulis apa yang Anda ingin tulis. Dan tulis apa yang Anda tidak tahu!

Anda sendiri sebagai apa? Mengapa kesibukan dan pekerjaan menjadi kambing hitam halangan untuk tidak menulis? Mengapa “waktu” menjadi hambatan Anda menulis?

Nah, jika Anda terkungkung oleh rutinitas dan sibuk dengan pekerjaan, mengapa orang yang disebutkan di atas  dapat menghasilkan tulisan?

Jadi, waktu bukan penghalang. Pekerjaan bukanlah kambing hitam untuk tidak dapat menulis. Semuanya terpulang pada kemauan Anda.

Setiap penulis besar mulai dari alif. Setiap penulis profesional berawal dari amatir. Ingat perumpamaan mengenai “lukisan Affandi” yang kerap saya kisahkan?

Ketika Anda penulis pemula, dan bukan siapa-siapa, apa pun yang Anda tulis dibilang: jelek. Tapi sekali Anda punya nama, sekaligus bernilai, apa pun yang Anda tulis dibilang: bagus!

Maka jangan pernah buang, atau men-delete, tulisan yang Anda anggap jelek sekalipun. Suatu waktu, jika terkenal, Anda membutuhkannya. Tulisan yang semula dianggap jelek, menjadi bernilai karena Anda terkenal! Ingat kata-kata empu penulis Mark Twain, “Write without pay until someone offers pay.”

Bisa jadi, saat ini belum ada yang membayar Anda  menulis. Tapi suatu waktu? Pasti Anda yang membayar tulisan melebihi yang Anda duga. Saya mengalaminya. Berkanjang hingga sukses.

Tulis, tulis, tulis. Sekali lagi, tulis!

Itu kunci orang sukses di bidang tulis-menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *