Rumah Puisi Taufiq

Penyair diidentikkan hidup bersahaja. Mata sayu, badan kurus kering, sandal jepit, dan sarungan. Taufiq Ismail menjungkirbalikkan stereotipe itu. Rumah Puisi yang ia bangun di Padang Panjang saksi, sekaligus pusat budaya dan tempat siapa saja belajar puisi.

Ranah Minang dan sekitarnya sejak zaman baheula dikenal karena pujangga dan penerbitnya. Sebut saja A.A. Navis. Lelaki kelahiran Padang Panjang tahun 1924 ini, tidak pernah dilupakan karena Robohnya Surau Kami, cerpen yang menghebohkan pada zamannya.

foto: istimewa/n..n.

 

“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalankampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu.Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnyamengalir melalui empat buah pancuran mandi,” pemilik inisial A.A. dari Ali Akbar itu memulai cerpennya.

 

Padang Panjang seperti tak kehabisan pengarang. Setelah era Navis, lahir banyak pujangga. Tak tanggung-tanggung, mereka berkelas internasional. Satu di antaranya, Taufiq Ismail.

 

Semua orang mafhum, pria kelahiran Bukittinggi pada 1935 ini salah satu penyair legendaris. Penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970) ini melahirkan kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Merupakan refleksi atas peristiwa kelabu 1998, kumpulan puisi ini mencelik mata banyak orang, sekaligus menggugah kesadaran bersama sebagai sebuah keluarga-bangsa yang semestinya mengalir bagai puisi: halus, indah, tajam, terangkai bait demi bait sebagai satu kesatuan, harmonis, dan tak terpisahkan.

 

Terletak di Jalan Raya Padang Panjang Bukit Tinggi km 6, Padang Panjang, rumah puisi Taufiq Ismail seperti satu dari objek wisata yang menyatu dengan alam Padang Panjang.

Rumah yang dibangun pada paruh tahun 2008 ini lahir dari keprihatinan penyair yang gemar mengenakan topi ini. Betapa tidak! Surveinya menunjukkan, budaya baca siswa Indonesia nomor bontot dari negara-negara yang disurvei. Bahkan dibanding negara tetangga seperti Thailand sekalipun, Indonesia jauh tertinggal.

Hasil survei mengenai wajib-baca buku sastra ini dipajang tepat depan pintu masuk rumah puisi. Dari 14 negara, Indonesia urutan paling bawah. Sebuah survei yang mengejutkan, sekaligus memprihatinkan.

Maka Taufiq mendirikan rumah puisi sebagai monumen. Sebuah rumah yang tentu pertama-tama untuk dirinya dan keluarga, melainkan untuk semua. Boleh dikata, rumah puisi juga pusat kebudayaan. Bahkan, menjadi pusat pelatihan bagi guru bahasa dan sastra, selain sanggat berlatih siswa bersastra pada umumnya dan berpuisi-ria seperti dirinya.

Ke rumah puisi ini, dapat melewati jalan berkelok. Mampir dulu di Danau Maninjau. Melewati Bukittinggi, baru ke Padang Panjang.

Berdiri anggun di kaki Gunung Singgalang dan Merapi, Nagari Aia Anggek, Jalan Raya Pandang Panjang, Bukittinggi km 6, rumah puisi seperti mengabadikan keindahan sekaligus kekayaan Sumatra Barat.

Tiba di rumah puisi, kita disambut larik-larik puisi Taufig yang selain indah, juga sarat dengan makna. Mata akan terpanah pada puisi “Dua Gunung kepadaku Bicara” yang tak lain adalah Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Kedua gunung kembar bagai ayah dan ibu. Dilukiskannya sebagai metafora yang senantiasa mengundang rindu dan selalu terpatri dalan ingat.

Puisi ini dicetak dalam semacam prasasti, dengan huruf besar semua, agar terbaca jelas oleh setiap mata yang memandang.

kepada Singalang bertanya aku
wahai gunung masa kanakku
di lututmu kampung ibuku
kenapa indahmu dari dahulu
tak habis-habis jadi rinduku?

kepada Merapi berkata aku
wahai gunung asa bayiku
di tapakmu kampung ayahku
kenapa gagahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam ingatku?

 

Menulis puisi, sebenarnya Taufig bukan sekadar memindahkan keindahan ke dalam untaian kata. Lebih dari itu, sebagai pujangga, ia sedang mengajar. Ini sesuai dengan yang dikemukakan Vossius bahwa, “Poetae sunt morum doctores” (pujangga adalah guru moral). Lewat goresan pena, penyair pada hakikatnya sedang mengajar banyak orang. Ia bukan hanya mengalihkan suasana jiwa dan pikirannya lewat kata, melainkan juga menyelipkan nilai-nilai, sekaligus mengasah jiwa pembaca.

Di sini menjadi genap kata-kata Victor Collance, “The poet is a man who seeing it as beauty, makes an effort to express it in words that, even as the come, make the vision itself a little clearer to himself and to others.”

Menjadi penyair masa kini tidak mesti badan kurus ceking, mata merah, perokok, sandal jepit dan sarungan. Taufiq Ismail membuktikan sebaliknya. Ia guru dalam banyak hal. Patut ditiru. Perlu jadi pemicu, terutama generasi muda. Bahwa olah kata ialah kecerdasan yang di masa depan, seperti dikemukakan Gardner, adalah ekonomi kreatif yang menjanjikan.

Taufiq Ismail saksi, berpuisi tidak identik hidup melarat. Rumah puisi menjadi bukti. (rmsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *