Trik & Tips Menulis Biografi

Biografi termasuk ragam buku nonfiksi paling digemari, sekaligus laris sebagai komoditas. Hal ini sesuai dengan rumusan, “People want to know (read) about people”. Ya, pada galibnya, orang suka mengetahui (membaca) ihwal orang lain.

Menulis biografi tidak sekali jadi, meski sang tokoh yang hendak dijadikan buku bisa kapan pun bercerita. Untuk itu, diperlukan proses dan langkah-langkah.

Proses kreatifnya sama dengan ragam tulisan yang lain, yakni melalui penemuan ide (inventing), mengumpulkan data dan informasi (collecting), mengorganisasikan atau mengurutkan data dan informasi (organizing), mulai menulis naskah kasarnya (drafting), merevisinya (revising), memeriksa serta mengoreksi cetak-coba (proof reading), hingga penerbitan (publishing).

Adakah kriteria untuk menentukan tokoh untuk dibiografikan? Tentu saja, ada. Kriteria yang berlaku umum untuk itu ialah dengan

  • Memilih tokoh yang memiliki nilai berita
  • Memilih tokoh yang dikenal atau dekat dengan khalayak

Marilisa Sachteleben dalam “How To Write a Personal Profile” membuat rambu-rambu agar dihasilkan tulisan yang berdaya-pikat sebagai berikut.

  • Pertimbangkan kata sifat. Cek kamus jika harus menggunakannya sehingga Anda dapat memilih sepatah kata untuk menyatakan dengan jelas apa yang Anda inginkan untuk berbagi (misalnya, kata optimis versus ceria, pragmatis versus turun-ke-bumi).
  • Pilih istilah spesifik. Misalnya, “Astrid pemain basket” memberikan informasi lebih banyak pada pembaca daripada “Astrid menyukai olah raga”; “mesin dan rem diperbaiki” lebih menarik daripada “cenderung mekanis”.
  • Beri contoh bukan generalisasi. Misalnya, “Sutradara drama Hamlet di perguruan tinggi” jauh lebih menarik daripada “aktif di bengkel teater. “
  • Gunakan kata-kata yang berdaya pikat. Biasanya, hal ini mengacu pada verba, tetapi berhati-hati dalam hal pilihan kata dalam penggunaan langsung, kata-kata punchy tidak malas, miskin frasa, misalnya, “desain” versus “membuat”, “kolaboratif” vs “dapat bekerja dengan baik dengan orang lain.”
  • Rumuskan atau tuliskan dalam kalimat pendek. Katakanlah apa yang Anda maksudkan. Jangan menutup-nutupi, bertele-tele, bimbang, mengulangi, ngelantur, mengkhotbahi, atau terus-menerus menjelaskan.
  • Format garis besar lebih mudah dibaca daripada format narasi. Daftar snapshot kadang memberikan pandangan tentang kehidupan seseorang.
  • Angkat berbagi hal-hal positif, namun tidak berlebihan. Setiap orang punya masalah, tapi tidak ada yang sudi membaca ihwal yang serba negatif.
  • Bersikaplah jujur, jangan bohong atau melebih-lebihkan.
  • Mengisahkan tentang si profil. Jelas, tidak menyombongkan, tetapi juga tidak ada manfaatnya mencaci-maki atau mengkritik yang bersangkutan. Itu membuat orang merasa tidak nyaman dan menjengkelkan. Hindari menulis, “Ia gadis gemuk, tidak cantik, dan dungu…” ini akan membuat orang pergi meninggalkan tulisan Anda.
  • Jangan menggunakan profil sebagai tempat untuk berkhotbah. Rubrik profil bukanlah tempatnya.
  • Jangan mengiklankan atau menggunakan profil untuk menjual atau mempromosikan. Profil pribadi seseorang, jika Anda wartawan tetap suatu media, tidak boleh digunakan untuk menjadi mesin uang. Misalnya, menjanjikan akan dimuat dengan syarat yang bersangkutan memberikan imbalan.

 

Adakah ukuran untuk menentukan bagaimana tulisan profil yang berhasil? Memang ada. Yang pasti, tulisan profil dikatakan berhasil manakala tulisan itu dibaca habis. Akan lebih baik, apabila selain dibaca habis, tulisan profil juga meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca. Pembaca memetik hikmah, terinspirasi, termotivasi, dan berempati dengan sang tokoh. Inilah ukuran keberhasilan tulisan profil!

Pendeskripsian yang kuat dan ketajaman memperhatikan detail harus dilakukan. Penulis tidak cukup hanya melakukan wawancara, tetapi juga mendalaminya dengan pengamatan, memperkaya data dan informasi dengan berbagai sumber. Dengan kata lain, untuk menghasilkan tulisan profil yang berhasil, seseorang harus mencelikkan mata dan membuka hati. Baru menuangkannya dalam tulisan. Tulisan baru akan memantulkan power atau greget ke luar manakala dihayati dengan sungguh. Sebaliknya, setenar dan sehebat apa pun sang tokoh, apabila penulis profil kurang menghayati dan mendalaminya, tulisan akan hambar dan pembaca tidak akan menemukan apa-apa usai membaca tulisan itu.

 

Untuk itu, penulis profil perlu mengetahui bidang-bidang yang menarik yang dapat dijadikan pelatuk dalam mendeskripsikan seseorang. Sebagaimana diketahui bahwa desksipsi berasal dari kata Latin describere yang berarti: menggores, menggambarkan, menarik, menulis. Apabila dikaitkan dengan orang atau profil maka mendeskripsikan seseorang berarti menggambarkan orang tersebut melalui kata-kata secara jelas dan terperinci.

Meski demikian, haruslah diingat bahwa manusia adalah makhluk multidimensional. Karena itu, tidak mungkin membuat gambaran tentang manusia secara lengkap dan terperinci hingga sedetail-detailnya. Salah satu kompleksitas manusia ialah struktur anatominya yang tidak mudah untuk dianalisis atau struktur tubuhnya yang sukar untuk digambarkan. Apa lagi manusia adalah makhluk yang unik dibanding makhluk lain, yakni berakal budi dan berjiwa. Selain ada aspek badaniah yang kasat mata, ada pula aspek rohaniah yang tidak kasat mata sehingga tidak mudah untuk mendeskripsikan orang.

Adakah kiat bagaimana mendeskripsikan orang, agar tulisan bukan hanya benar berdasarkan fakta dan informasi, tetapi juga menarik? Memang ada! Berikut ini beberapa tips dan contoh bagaimana mendeskripsikan orang.

 

BIDANG FISIK

Bidang fisik tentu aspek yang paling mudah untuk mulai mendeskripsikan seseorang. Tujuan deksripsi aspek ini ialah memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya mengenai keadaan fisik seseorang sehingga pembaca memperoleh gambaran mengenai tokoh yang bersangkutan. Dengan mendeskripsikan fisik, pembaca mengenal kembali tokoh tersebut andaikata berjumpa dengannya pada suatu kesempatan.

Misalnya, seorang gadis. Winnie namanya. Ia dilukiskan sebagai seorang bertubuh semampai, kulit kuning langsat, bermata tajam bulat, berhidung mancung, memiliki tahi lalat di dagu sebelah kiri, rambut lurus tebal pekat, mengenakan celana blue jeans, dipadu T-Shirt keluaran terbaru, dan seterusnya. Deskripsi seperti ini lebih bersifat subjektif karena memang demikianlah adanya keadaan fisik Winnie. Penulis tidak memberikan penafsiran atas unsur-unsur deskripsinya. Metafora atau bahasa kiasan dapat dipakai untuk melukiskannya, termasuk unsur-unsur perbandingan dapat digunakan untuk menajamkan deskripsi.

Deskripsi mengenai unsur-unsur fisik itu coba dikaitkan dengan ungkapan apa yang dikerjakan sehingga lukisan mengenai tokoh terasa lebih hidup dan segar.

 

BIDANG MILIK

Bidang kedua yang dapat dijadikan pelatuk untuk mendeskripsikan seseorang ialah dengan mengangkat segala sesuatu yang dilingkupi atau dimiliki seseorang. Misalnya, pakaian, sepatu, rumah, kendaraan, maupun aksesorinya. Aksesorinya, atributnya, apakah cincin atau mobil, ataukah pakaian, bisa digambarkan. Di sini berlaku pepatah, “You are what you wear!”

 

BIDANG TINDAKAN

Bidang ketiga yang dapat dijadikan objek untuk mendeskripsikan seseorang ialah dengan mengangkat tindak tanduk atau perbuatan yang dilakukan sang tokoh. Seorang penulis dapat mengikuti dengan saksama kemudian menuliskan dengan menarik tindak tanduk, perbuatan, dan gerak gerik sang tokoh dari suatu tempat ke tempat lain dan dari dari suatu kesempatan ke kesempatan lain. Sesuatu yang khas atau hal yang unik dapat diangkat. Anekdot atau cerita-cerita langka tentang sang tokoh dapat pula menjadi pemicu yang menarik untuk menggarap deskripsi bidang ini.

Camkan bahwa deskripsi mengenai tindakan ini bukanlah eksposisi secara umum, tetapi khusus mengenai sang tokoh. “Marwan meninju Daud,” bukanlah contoh kalimat deskriptif yang baik. Mengapa? Sebab kalimat ini merupakan kalimat pernyataan biasa, tanpa coba menunjukkan sifat-sifat deksriptif yang dimaksudkan.

 

BIDANG PERASAAN

Bidang perasaan juga dapat menjadi pelatuk bagi penulis untuk mulai mendeskripsikan seseorang. Tidak harus langsung, perasaan dapat digambarkan dengan metafora dan perbandingan. Suasana hati gembira, perasaan bahagia, dan jiwa yang membara dapat dilukiskan dengan pilihan kata yang hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *